ABSTRAKPembelajaran Storytelling untuk membentuk karakter religius anak.

ABSTRAKPembelajaran saat ini dirasa masih kurang variasi. Penelitian ini ingin mencari solusi atas persoalan tersebut dengan mengunakan Strategi Pembelajaran Storytelling untuk membentuk karakter religius anak. Pendidikan agama Islam yang diterapkan pada anak usia dini atau pendidikan pra sekolah dimaksudkan agar anak mendapatkan dasar-dasar akhlak Islami. Dasar-dasar ini merupakan modal utama dalam membentuk karakter religius anak tersebut. Karakter religius inilah yang nantinya mampu mengontrol pola perilaku peserta didik sehingga terbentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt. Usia anak di taman kanak-kanak yang memiliki imajinasi tinggi menjadikan strategi story telling dalam pembelajaran pendidikan agama Islam patut dipertimbangkan. Strategi story telling, atau strategi bercerita (mendongeng) mampu membawa anak untuk berimajinasi dan berfantasi terhadap cerita yang dibawakannya sehingga anak mampu mengkreasikan sesuatu berdasarkan khayalan mereka.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat keberhasilan materi yang dicapai dari usaha guru PAI dalam menyampaikan materi melalui metode storytelling dan apa pengaruh metode storytelling terhadap pembentukan karakter religius anak dalam pembelajaran PAI. Ada dua utama yang hendak dicapai ; pertama, untuk mengetahui tingkat keberhasilan metode storytelling dalam pembelajaran PAI. Kedua, mengetahui pengaruh metode storytelling terhadap pembentukan karakter religius anak. Penelitian ini diharapkan mampu memberi sumbangan konstruktif terhadap perbaikan pembelajaran dalam proses belajar mengajar..PENDAHULUANPendidikan agama Islam merupakan langkah untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan, bimbingan, pengajaran, maupun latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dan hubungan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. Pendidikan agama di sekolah memiliki maksud untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Uraian dari fungsi pendidikan agama yang tercantum dalam permendiknas menjadi bukti bahwa pendidikan agama Islam sangat penting untuk dilakukan dan dikembangkan demi terciptanya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam yang diharapkan mampu meningkatkan moral sekaligus meningkatkan mutu pendidikan nasional, nampaknya belum sepenuhnya tercapai. Dalam pelaksanaannya, pendidikan agama Islam belum mampu membentuk kepribadian yang baik kepada peserta didik. Degradasi moral pun kian marak. Bahkan, pelajar tingkat sekolah dasar (SD) telah ternodai dengan adanya kasus tawuran, pelecehan seksual, dan lain sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa pelaksanaan pendidikan agama Islam belum mampu menanamkan nilai-nilai ajaran Islam kepada peserta didik. Siswa SD yang seharusnya diarahkan kepada pembentukan karakter yang baik justru ternodai dengan tindakan-tindakan kriminal tersebut. Demi tercapainya tujuan pendidikan nasional pada umumnya, dan tujuan pendidikan agama Islam pada khususnya, maka penanaman nilai-nilai agama Islam harus dilaksanakan sejak dini. Internalisasi nilai-nilai agama Islam yang berlangsung sejak dini diharapkan mampu membentuk karakter religius anak sehingga mengakar kuat pada dirinya. Oleh karena itu, pendidikan agama Islam tidak hanya dimaksimalkan pada pendidikan di sekolah saja, tetapi juga harus dimaksimalkan pada pendidikan sebelumnya, atau pendidikan pra sekolah.Pendidikan agama Islam yang diterapkan pada anak usia dini atau pendidikan pra sekolah dimaksudkan agar anak mendapatkan dasar-dasar akhlak Islami. Dasar-dasar ini merupakan modal utama dalam membentuk karakter religius anak tersebut. Karakter religius inilah yang nantinya mampu mengontrol pola perilaku peserta didik sehingga terbentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWTPelaksanaan pendidikan agama Islam akan berjalan dengan efektif dan efisien apabila dalam pembelajarannya menggunakan strategi yang tepat. Usia anak di taman kanak-kanak yang memiliki imajinasi tinggi menjadikan strategi storytelling dalam pembelajaran pendidikan agama Islam patut dipertimbangkan.Strategi storytelling di taman kanak-kanak mampu meningkatkan kecerdasan otak peserta didik. Hal ini dikarenakan metode bercerita merupakan media pembelajaran bahasa yang sangat kaya kosakata bagi anak. Struktur kalimat dalam dongeng jauh lebih kompleks dibandingkan dengan kalimat-kalimat yang lain.Pengetahuan tentang nilai-nilai ajaran Islam yang banyak ditangkap oleh peserta didik menjadi dasar yang kuat dalam menciptakan karakter religius anak tersebut.Dengan demikian, penggunaan strategi stroytelling di taman kanak-kanak menjadi strategi yang efektif dalam membentuk karakter religius peserta didik. Strategi storytelling, atau strategi bercerita (mendongeng) mampu membawa anak untuk berimajinasi dan berfantasi terhadap cerita yang dibawakannya sehingga anak mampu mengkreasikan sesuatu berdasarkan khayalan mereka. Oleh karena itu penulis ingin membahas tentang Penerapan Strategi Storytelling Dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Tk Al KautsarMETODE PENELITIANPenelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan, pengamatan/ observasi dan wawancara yang mendalam. Analisis data dilakukan dengan wawancara dengan orang tua dan guru selaku pembimbing.PEMBAHASANPendidikan taman kanak-kanak pada hakikatnya merupakan pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak. Pendidikan taman kanak-kanak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kepribadiannya. Oleh karena itu, pendidikan pada jenjang ini harus memuat aspek perkembangan kognitif, bahasa, sosial, emosi, fisik, dan motorik.Menurut Al-Qur’an, manusia (termasuk anak) merupakan makhluk spiritual. Ia mempunyai peranan yang pasti di panggung kehidupan ini. Aktivitas mereka diatur oleh prinsip dasar tertentu yang jika dilanggar akan menjadi orang jahat, dan jika dipatuhi akan menjadi orang baik.Dari keadaan yang demikian, manusia sering disebut sebagai homo religius dan dengan adanya fitrah beragama, ia juga memerlukan pemenuhan kebutuhan rasa agama. Uraian di atas menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius pada anak usia taman kanak-kanak sangat penting. Pembentukan karakter religius ini tidak akan lepas dari pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama IslamDari hasil yang sudah didapat peneliti di sekolah, perilaku anak sebelum menggunakan metode storytelling diketahui masih rendah. Hal diketahui dari tingkah laku anak seperti pada saat belajar anak tidak mau mendengarkan penjelasan dari guru dan anak tidak mau mengikuti aturan. Contoh kasus satu : Guru melakukan cerita tentang bagaimana cara wudhu yang benar, dalam cerita tersebut ada beberapa anak yang tidak memperhatikan, Sedangkan anak yang lain pada memperhatikan dan ketika praktek anak-anak tersebut tidak bisa melakukan wudhu dengan benar. Contoh kasus dua : guru mengulang cerita dengan menggunakan gambar, dan pada kasus dua ini anak-anak bisa fokus mendengarkan cerita guru tentang tata cara wudhu, dan hasil yang didapat banyak siswa yang bisa melakukan wudhu ketika praktek. Dari hasil penerapan storytelling dalam membentuk karakter siswa bisa dilihat dari perubahan perilaku siswa sehari-hari terlalu lama dan diulang-ulang. Penerapan karakter religius pada anak harus dilakukan sejak dini dengan melalui storytelling dan pembiasaan, sehingga terbentuklah suatu karakter religius seperti pembiasaan mengucapkaan salam, mengerjakan sholat dengan benar, wudhu, berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan/pekerjaan dan sebagainya. Pembiasaan dan ketauladanan serta peringatan-peringatan yang mengarahkan dalam kebaikan maka akan membekas kepada anak dan terbentuklah karakter religiusnyaFaktor utama yang mendukung keberhasilan storytelling dalam membentuk karakter religius siswa adalah cerita yang diulang-ulang, adanya kerjasama dengan orangtua dan guru,adanya keteladanan pada anak .Sementara faktor penghambat keberhasilan storytelling adalah alat peraga yang kurang menarik, tempat yang kurang memadai untuk bercerita, suara yang kurang variatif.Dengan menggunakan penerapan metode storytelling tingkat keberhasilan dalam merubah perilaku akhlak lebih mudah karena dalam cerita ada contoh yang dapat dijadikan tauladan. Penerapan metode storytelling dapat merubah karakter anak menadi lebih baik, sehingga dalam pembelajaran storytelling sangat perlu untuk memberikan perubahan dalam proses pembelajaranKESIMPULANBerdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan tentang penerapan storytelling dalam membentuk karakter religious siswa di TK Al- Kautsar. Kegiatan belajar dengan menggunakan storytelling dalam pembelajaran dapat membentuk karakter religious dalam diri siswa, TK Al-Kautsar. Storytelling dilakukan selama proses belajar mengajar, baik sebelum ataupun sesudah pembelajaran. Agar dapat terbentuk pembiasaaan-pembiasaan karakter religius pada anak. Dari hasil penerapan storytelling dalam membentuk karakter siswa bisa dilihat dari perubahan perilaku siswa sehari-hari terlalu lama dan diulang-ulang. Penerapan karakter religius pada anak harus dilakukan sejak dini dengan melalui storytelling dan pembiasaan, sehingga terbentuklah suatu karakter religius seperti pembiasaan mengucapkaan salam, mengerjakan sholat dengan benar, wudhu, berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan/pekerjaan dan sebagainya. Pembiasaan dan ketauladanan serta peringatan-peringatan yang mengarahkan dalam kebaikan maka akan membekas kepada anak dan terbentuklah karakter religiusnya. Hasil yang dicapai dari storytelling dalam pembentukkan karakter religius adalah dengan adanya perubahan pada anak yang tadinya tindak mau dan tidak bisa menjadi bisa dan mau, bahka sudah tertanam pada diri anak dan menjadi suatu kebiasaan, seperti dengan sholat tanpa disuruh anak sudah tahu dan mengerjakannya, dengan terbiasa mengucapkan salam tanpa disuruh dia ketemu teman sudah mengucapakan salam duluan, serta dengan pembiasaan berdo’a anak sudah dengan sendirinya berdo’a ketika mau mengerjakan sesuatu tanpa disuruh, karena itu sudah menjadi pembiasaan. Faktor utama yang mendukung keberhasilan storytelling dalam membentuk karakter religius siswa adalah cerita yang diulang-ulang, adanya kerjasama dengan orangtua dan guru,adanya keteladanan pada anak .Sementara faktor penghambat keberhasilan storytelling adalah alat peraga yang kurang menarik, tempat yang kurang memadai untuk bercerita, suara yang kurang variatif